Minggu, 20 Juli 2014

Grow Up

Di suatu Minggu yang cukup terik, Ramadhan penuh berkah masih menyertai kehangatan keluarga kecil yang memiliki kesempatan berkumpul lengkap, karna aku sedang liburan semester yang cukup lama.
Liburan semester ini bukan liburan seperti biasanya, aku memiliki satu tugas yang cukup berat, satu tanggung jawab yang memang saat ini lah waktunya, yaitu membimbing pelita hatiku, adik kecilku yang sekarang mulai tumbuh remaja.
Ya, baru saja siang ini sebelum aku menulis tulisan ini, adikku ketahuan punya pacar. Lucu sekali, dia kelihatan sangat malu, sampe-sampe dia mimisan hehe.
Ya, ini tugasku membimbingnya agar tidak berlebih-lebihan dalam "mencintai". Adik kecilku yang dulu sering ku bully, sekarang sudah tumbuh remaja, adik kecilku sekarang menjadi seorang yang mulai mencari sesuatu yang dinamakan "cinta" , dan sekarang dia terjebak dalam suatu yang dinamakan "cinta monyet". Sontak aku khawatir, khawatir akan perasaannya, khawatir akan akhlaknya kelak jika ia terus-terusan terlarut dalam hal tersebut tanpa ada yang mengingatkan.
Kembali aku bernostalgia, mencoba menggali memori masa lalu ketika aku seusianya, sama terjebak dalam "cinta monyet" juga, merasakan mencintai dan dicintai namun semu, merasa patah hati, kadang merasa dihianati. Dan perasaan itu terus membuai diri untuk terombang-ambing dalam kegalauan khas remaja, menjadi so dewasa, dan emosional yang tak terarah, bahkan akhlak yang kurang baik sering dilakukan, misalnya BERBOHONG pada orang tua. Dan aku khawatir itu terjadi pada adikku.
Oleh karena itu, liburan ini bukan liburan biasa, liburan ini adalah satu amanah tarbiyah yang Allah berikan kepadaku untuk membimbing adik kecilku yang kini sekarang tumbuh remaja.
Bismillahirohmanirohim, semoga Allah mengiringi langkah ini. Aamiin

Sabtu, 07 Juni 2014

Simple

"Ditengah riuh yang menelan sunyi, terdengar langkah-langkah kaki yang berkejaran, saling menjatuhkan, saling menindih, tapi aku hanya ingin berpikir simple. Ditengah deru nafas berat, debar jantung yang dahsyat, tak jarang terdengar maki terlontar, hasut beringsut, dan hasrat menjerat, seolah dunia hanyalah satu-satunya tujuan mulia, tapi aku hanya ingin berpikir simple." -fauzianrifqi
Derita tak mungkin dituai, bahagia tak mungkin dicapai, tanpa ada benih yang tertanam sebelum hari ini, hari ini kita mengambil pelajaran yang baik dari sebuah kata sederhana,yaitu “Kepentingan”.
Visi, tanpa disadari setiap yang hidup memiliki hal tersebut. Disetiap langkahnya, disetiap tuturnya, disetiap keputusan hidup yang diambil sadar ataupun tidak, visi selalu menyertai, tujuan selalu mendampingi.
Aku tak begitu naif untuk mengakui bahwa akupun mempunyai tujuan yang hampir sama seperti orang-orang pada umumnya, ingin menjadi orang yang hebat, mensejahterakan diri, keluarga hingga negeri. Semua mimpi-mimpi besar terangkai dalam sebuah master plan kehidupan yang begitu kompleks dan tinggi, hingga mampu memacu gairah obsesi kehidupan yang luar biasa, mau berlelah-lelah menggenggam dunia, merengkuhnya hingga tak ada yang menyaingi,  bahkan mencaci bila perlu.
Semua tentang kepentingan, entah itu kepentingan pribadi ataupun kepentingan golongan. Seolah semua yang mendukung pada kepentingan tersebut menjadi halal, dan semua yang menentang kepentingan itu menjadi harom. Seolah semua yang mendukung kepentingan itu adalah kawan, dan yang tak sejalan adalah lawan. Ironi sekali melihat kepentingan-kepentingan tersebut hari ini. Saudara seiman saling mengkafirkan karena “kepentingan”, saudara seperjuangan, setanah air saling menjatuhkan karena “kepentingan”, sungguh apa yang mereka harapkan dari “kepentingan” tersebut?
Dari semua hal tersebut seharusnya ada satu pertanyaan yang menggelitik. “Sebenarnya untuk apa kita hidup?”.
Sungguh, kita hidup itu menuju mati. Simple.
Dan segala hiruk-pikuk yang kita jalani, segala waktu yang dilalui untuk semua obsesi-obsesi duniawi, sesungguhnya untuk mempersiapkan mati. Sudahkah cukup bekal kita? sudahkah kita mengoptimalkan waktu yang Allah anugerahkan untuk membekali diri kita? ataukah hanya sekedar menyempatkan diri?
Hidup terlalu singkat jika hanya untuk sekedar saling menjatuhkan demi obsesi dunia ini, hidup terlalu berharga jika hanya untuk menangis meratap apa yang tak tercapai, hidup terlalu mulia jika apa yang menjadi tujuan dari perilaku kita, perbuatan kita, tutur kata yang kita ucapkan, dan segala kebaikan yang kita ucapkan hanya untuk dunia.
ingatkah bahwa “Tak semata-mata Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu (Allah).”
Hidup ini seperti sebuah perantauan, yang suatu hari nanti akan ada masanya untuk “pulang”. Kondisi apakah yang kita harapkan saat pulang dari perantauan? hampa tak membawa bekal apapun, hanya berbekal baju compang-camping yang pada mulanya itu baju sebagai bekal kita yang paling baik pada awal perantauan? atau pulang dengan keadaan yang baik, dengan pakaian yang selalu baik, dan membawa bekal yang banyak?
Oleh sebab itu, berpikirlah sederhana sehingga semua yang kompleks terlihat sederhana, sehingga semua obsesi itu mampu terarah dengan baik, niat Lillahita’ala akan menjadi harga yang sangat bernilai disetiap cucuran keringat penggapaian mimpi di dunia.
"Bermimpilah, gapailah, genggam ditanganmu, jangan dihatimu. Maka kecewa akan enggan tuk hampiri." -fauzianrifqi

Selasa, 22 April 2014

Tangis Sahabat

Mentari pagi menyapa dengan senyum hangatnya, ditengah sebuah nuansa ceria dengan balutan aroma tawa bahagia terpancar dari hati yang senang tuk berkasih-kasih dengan sahabat-sahabat terkasih. Disebuah sampan kecil nan sederhana, gemercik air lirih merayu tercabik bibir sampan yang melaju pelan, bisik syahdu sejuk hembus angin pagi itu tak mau kalah menyapa hati-hati yang sedang bahagia. Aroma khas persahabatan anak-anak manusia tercium bak wewangi bunga beterbaran hari itu. Panorama ciptaan Tuhan terpampang jelas depan kelopak mata menambah kesenangan hari itu, merayu tuk rindu kembali kemari satu hari nanti, hamparan biru telaga, berkilauan disirami pesona cahaya mentari, kilauan itu seolah menari diterpa angin pagi itu, dibalut rindang hijau pepohonan menambah kesempurnaan lukisan indah dari Sang Maestro alam semesta.
Ditengah euforia kebahagiaan hari itu, aku tersadar akan satu hal yang tersamarkan ditengah riuh nada-nada bahagia pagi itu.
Ditengah syahdu hembus angin yang senada dengan keceriaan, terdengar samar lirih perih hati bak teriris disetiap hembusan angin pagi itu. Ketika hati bertanya "mengapa?" hati yang merintih itu hanya menjawab "tak apa". Kucoba tuk tak peduli, tapi kasih hati seorang sahabat tak mampu hanya berdiam diri ketika rintihan perih itu semakin nampak terasa. Riuh anginpun seolah berubah pagi itu. Ketika hati itu betul merintih mengisahkan sebuah nostalgia kebahagiaan yang pernah singgah di satu memori masa lalu yang kini enggan tuk kembali, mungkin takkan kembali. Seketika itu kami terdiam, riuh tawa seolah tak terdengar seketika itu, aku melihat mata yang kosong seolah sedang terombang-ambing layaknya buih kecil ditenah lambaian ombak nostalgia. Kulihat disudut mata itu ada satu kilauan yang enggan tuk tampakan diri, dan aku paham saat itu betapa ada hati yang sedang terluka hari itu.
"Kenangan adalah kenangan sobat, indah maupun perih, sama takkan engkau jangkau kembali, yang terpenting adalah engkau menapaki hari ini dan jadikan disetiap hari menjadi kenangan indah untukmu, untuk orang sekitarmu, untuk orang-orang yang engkau kasihi yang suatu hari nanti kan menjadi keindahan disetiap jejak yang engkau tinggalkan. Jangan bersedih." -fauzianrifqi

Sabtu, 05 April 2014

Simbal Berbunyi Nyaring

Allah anugerahkan satu hal yang unik untuk manusia, dia adalah perasaan. Layaknya bersenandung dalam sunyi, perasaan dapat bernyanyi tanpa orang sekitar tahu bahwa ia sedang bernyanyi. Satu dari sekian banyak hal unik tentang perasaan adalah “Cinta”. Cinta datang dan pergi tanpa dapat diperkirakan, di situlah kuasa Allah yang mampu membolak-balik hati manusia.

Cinta mampu menjadikan satu hal kecil menjadi besar, cinta mampu menjadikan satu yang tak ada menjadi ada, cinta mampu ledakkan mimpi kecil menjadi satu ledakan besar yang menghasilkan suatu yang besar pula, layaknya teori big bang yang hasilkan alam semesta dari ledakannya.
Satu hal lagi, cinta mampu merubah kehidupan. Ada yang hidupnya  sedih menjadi bahagia karena cinta, ada yang hidupnya bahagia menjadi sengsara karena cinta. Tapi satu hal yang penting yang terjadi pada sahabat-sahabatku terkasih, cinta mampu menjadi simbal yang terdengar sangat nyaring dalam hatinya, menggerakan hati untuk menjadi lebih baik tanpa harus mengungkapkan betapa syahdu bunyi simbal itu pada “si penabuh”.

Teruntuk sahabat-sahabatku para pemilik simbal nyaring :)
"Sahabatku, biarkanlah simbal itu berdentum nyaring tanpa ‘si penabuh’ tahu betapa nyaringnya bunyi simbalmu, sampai suatu hari engkau sanggup menyerahkan simbal itu padanya" -Fauzianrifqi

Sabtu, 22 Maret 2014

Sahabat Kecil


Suatu hari, terik mentari memeluk syahdu ditengah deru ombak berirama nostalgia. Suasana khas pantai selalu menjadi satu kenangan yang terpaku dalam laci ingatan yang simpan segala memori itu.
Gelak tawa kepolosan anak-anak manusia yang diperkenalkan waktu untuk saling bertemu diwaktu belia. 
Nostalgia, selalu mengundang rindu tak terucap terpisahkan jarak dan waktu. Singkat sekali waktu pertemukan hati, tak sempat mengingat nama asli sang sahabat kecil itu, tak sempat aku hafal wajah sahabat kecil itu. 
Potret lugu berbaju oranye terang bersama sahabat kecilku di depan mobil tua berwarna merah menjadi satu salam terakhir ketika itu, tak tahu kapan waktu hendak pertemukan kembali. Terpisahkan waktu, melangkah di jalan mimpi dan cita tuk torehkan warna-warni kisah dalam lembaran hidup masing-masing.
Jalani kisah kehidupan, beranjak dewasa, terwarnai dan mewarnai dengan warna-warni kehiduan, mencari jati diri, merangkai kisah serta mimpi-mimpi, hingga laci ingatan itu berdebu dan usang tak pernah dibuka untuk sekedar nostalgia.
Ketika dewasa datang dengan pasti, waktu kembali mengiring langkah untuk membuka laci ingatan itu kembali. Tak sengaja aku temukan satu sosok yang tak asing, seperti mengalami de javu , "Pernah kenal dimana dengan gadis ini?" benakku bertanya dengan heran. Nama itu sama sekali aku tak mengingatnya, tapi wajah itu seolah tak asing.
Kembali ingatanku berkelana tuk hampiri nostalgia, teringat suasana itu, terik mentari cukup terasa menyengat iringi salam perpisahan 6 tahun lalu. "Mungkinkah?" benakku kembali bertanya.
"Sahabat kecil!" teriak hatiku terasa sangat gembira, menemukan satu coretan indah keceriaan anak-anak manusia belia di lembaran ingatan yang cukup berdebu dan usang.
Sahabat kecil, rindu bersenandung nostalgia seperti bunga yang bertumbuh dengan warna indah, aku dengan warnaku, engkau dengan warnamu.
Sahabat kecil, kamu membawa banyak kisah setelah perpisahan itu, begitupun denganku. Sahabat kecil, kamu membawa banyak mimpi setelah perpisahan itu, begitupun denganku. Kita telah banyak sekali melewati kisah masing-masing. Kapankah waktu kan pertemukan raga kita sahabat?
Sahabat, kisahmu menjadi warna dalam kisahku, mimpi-mimpi besarmu menjadi satu roda penggerakku untuk tetap bermimpi besar juga.
Sahabat, Semoga Sang Pemilik Waktu sudi tuk pertemukan kita dalam keadaan yang baik suatu hari nanti, semoga usia sampaikan kita untuk gapai mimpi-mimpi besar kita. Aamiin.

Jumat, 14 Maret 2014

Ketika Hati Betul Tertunduk (Pertolongan Allah itu Nyata part 2)

Sandal dengan Kenangan
Pekan itu merupakan pekan semester sisipan genap. Ya, aku harus memperbaiki beberapa nilai mata kuliah yang nilainya masih pas-pasan. Selain itu juga aku masih punya amanah menjadi kordinator acara Ramadhan. Tak seperti ramadhan biasanya, ini Ramadhan yang luar biasa, luar biasa ujiannya, luar biasa berkahnya.
Di tulisanku yang berjudul "Pertolongan Allah itu Nyata Part 1" aku sudah bercerita tentang betapa riweuhnya persiapan acara Tarhib Ramadhan yang penuh dengan hal yang membuat adrenalin melonjak membuat detak jantung tak karuan.
Setelah selesai acara Tarhib Ramadhan, masih banyak rangkaian acara selama Ramadhan yang kami agendakan, sungguh itu amanah pertemaku di organisasi dan langsung mendapat amanah yang aku rasa berat.
Kampus sangat sepi, terang saja, itu adalah pekan Semester Sisipan. Hal tersebut menjadi satu kendala yang paling krusial saat itu, "Siapa yang mau ikutan acara Ramadhan kami?? Fakultas lain sudah libur, hanya mahasiswa kedokteran yang tersisa.". Kekhawatiran kami ternyata benar, acara-acara lomba keterampilan agama yang kami adakan sepi peserta, bisa dihitung dengan jari, nangis hati ini, beban banget, merasa tidak becus, percaya diri down banget pokoknya.
Okey yang lalu biarlah berlalu, masih ada secerca harapan di acara terakhir kami di bulan Ramadhan, ini yang menjadi harapan kami sebagai GONG-nya acara gebyar Ramadhan 1434 H ini. Kami melakukan persiapan jauh-jauh hari, rapat demi rapat kami lalui, namun masih saja hati masih harap-harap cemas, takut acara terakhir ini kurang sukses seperti acara-acara sebelumnya. Pokoknya saat itu aku sangat berambisi untuk mensukseskan acara terakhir ini "Seminar Gebyar Ramadhan : "Maka Nikmat Tuhan mu yang manakah yang akan engkau dustakan?" Tema kajian keagamaan yang kami usung tentang rasa syukur, dengan pembicara Ramaditya Adikara (Seorang motivator tuna netra), dokter Jose Rizal (Relawan MER-C), dan dokter Abdul Mughni (Relawan MER-C, Novelis, Dosen kita yang pengalamannya segudang). 
Ternyata ujian yang harus kami hadapi gak cukup sampai lomba minim peserta, seminar kami pun sekitar H-1 minggu masih sangat minim peserta. Aku ingat sekali waktu itu peserta baru ada 13. Bayangkan! target kami 200 peserta dan H-seminggu masih 13. Ditambah lagi masalah pendanaan yang imposible banget kalo dipikir secara logika dan batas pemikiran manusia. Dana kami mendekati 0 saat itu, padahal sound sistem, pembicara konsumsi dan lain-lain sudah dipesan. Kami kebingungan mau pake dana dari mana, mengandalkan sisa dana acara Tarhib saja tidak cukup. Usaha kesana-kemari, tanya sana tanya sini, lari sana lari sini, tak membuahkan hasil. Frustasi rasanya, marah rasanya pada diri merasa tidak becus, rasanya ketahanan mentalku sudah berada di ambang batas garis "merah", depresi rasanya. Ternyata tak cukup ujian sampai minim peserta dan minim dana, berbagai kecaman datang dari ikhwah yang lain terkait salah satu pembicara yang katanya beraliran syi'ah, dan saat itu aku gak paham apa itu syi'ah dan lain sebagainya. Sampai kakak kelasku debat di media sosial memperjuangkan bahwa pembahasan yang akan kami usung bukan tentang aqidah, tapi carieer sharing pengalaman dan perjuang hidup pembicara tersebut. Sungguh masalah datang bertubi-tubi dan seolah tak ada titik pencerahan. Betul-betul saat mendekati hari H, depresi dan frustasi sudah betul-betul maksimal, seolah tak ada daya pada diri untuk bergerak, lelah sekali rasanya untuk menghadapi semua ujian ini. Selama Ramadhan aku tak pernah tidur nyenyak, selalu terbangun disetiap berapa menit aku tidur dan panik.
Saat itu aku menjadi satu orang yang betul-betul memendam masalah sendirian, aku tak cerita kepada orangtua karena tak ingin merepotkan dan membuat khawatir, aku selalu menunjukan wajah tenang dan selalu menenangkan panitia lain agar tidak cemas, padahal mental dan hatiku saat itu betul-betul remuk tak karuan.
H-1 peserta masih sedikit, tapi disetiap penambahan jumlah peserta disetiap harinya terasa sangat berarti walaupun hanya 1 atau 2 orang. Masalah pendanaan kami mencoba mengusahakan pinjaman dana dari mesjid Asy Syiffa. Malam itu aku dihubungi kak Bagus, kakak kelas yang kebetulan pengurus Asy Syiffa, aku disuruh ke Asy syiffa bertemu Pak Yanto besok paginya (hari H), katanya kami dapat pinjaman dari Asy Syiffa 3,5 jt. Malam itu aku langsung mengurus surat peminjaman, hari H paginya aku langsung menuju Asy syiffa untuk bertemu dengan pak Yanto, kebetulan acara seminar Ramadhan akan dimulai bakda dzuhur.
Sebelumnya aku mencoba menghubungi Pak Yanto namun ternyata handphone nya tak aktif, "Lakhaula wala kuwwata illa billah" aku langsung menuju Asy Syiffa, Perjalanan dari kampus menuju Asy Syiffa cukup jauh, perlu ditempuh 30 menit dengan motorku. 
Sesampainya di Asy Syiffa aku sangat cemas, kalau pinjaman ini gak jadi, mau bayar pembicara pake apa coba kalau gak ada sepeserpun dana. Aku celingukan di Mesjid, mencari pak Yanto tak kunjung ketemu. Saat kebingungan begitu, "Mas Rifqi mencari siapa?" suara berasal dari belakangku dan aku kenal suara itu adalah suara pak Yanto. "Alhamdulillah" hela napasku "Saya mencari bapak, ingin menanyakan terkait hal pminjaman dana untuk acara Ramadhan, kebetulan hari ini acaranya pak, Pak Zulfa katanya sudah acc" lanjutku. "Loh pinjaman apa dek? Pak Zulfa belum ngontak saya dek." jawab pak Yanto heran. Sontak rasanya leher dan telingaku panas rasanya, jantungku merasakan efek dari aliran adrenalin yang begitu derasnya, lemas sekali rasanya. "Ya sudah saya ke tempat kerja dulu ya dek, nanti saya kabari kalau pak Zulfa sudah menghubungi saya, tapi kok dari kemarin saya ketemu beliau gak ada obrolan ke arah sini dek, adek tahu sendiri keadaan keuangan asy syiffa belum pulih." Pak Yanto langsung pergi dengan motornya.
       Terasa tersambar petir, panas sekali rasanya seluruh badan. Bingung, sedih, takut, semua kefrustasian selama memegang amanah ini seperti seolah mencapai klimaksnya, terakumulasi menjadi sebuah puncak kefrustasian seolah dalam hati berteriak dengan begitu keras. Aku terduduk di emperan Mesjid Asy Syiffa untuk sejenak, pikiran terasa kosong, semua beban ini, semua pikiran ini seolah meledak memuntahkan isinya hingga kosong. Waktu menunjukan pukul 9.30 di jam ku. Acara Seminar Gebyar Ramadhan akan dimulai ba'da dzuhur nanti. Jantung berdetak dengan cepatnya seolah ingin meloncat dari tempatnya, nafas tersengal ingin menangis tapi enggan. Akhirnya langkah menyerah terguntai lemas menuju parkiran motor untuk pulang ke kampus tanpa hasil. Kabar ini mungkin akan membuat panitia Gebyar kebingungan dan stress, raut bingung dan kecewa dan teman-teman sudah sangat tervisualisasi di dalam pikiranku. Entahlah, saat itu aku seolah berjalan di kegelapan yang begitu pekat tak mengerti arah mana yang akan membawaku, seolah angin kan hembuskanku bagai butiran debu yang pasrah akan dibawa ke mana.
Sampailah aku di motorku, hendak menggunakan helm, merenung sejenak, ingin menangis sebenarnya tapi harga diriku terlalu mahal hingga enggan untuk menangis.
Entah ada apa tiba-tiba hati tergerak untuk melepas helm dan ingin kembali ke mesjid, berat sekali rasanya untuk pulang. Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke Asy syiffa, hendak melaksanakan sholat duha. Selesai sholat duha, aku merenungi apa yang sedang terjadi saat ini, merenungi apakah ini ujian ataukah adzab. Saat itu aku betul-betul mengintrospeksi diri, mungkin ada yang salah dengan niatku menjalankan amanah ini, semuanya aku renungi, hingga hati ini betul tertunduk dan berpasrah hanya pada Allah, kuserahkan segala urusan ini kepada Allah, hanya Allah yang mampu memampukan aku untuk selesaikan ujiannya. Hati betul tertunduk dalam sujud yang begitu penuh kepasrahan kepadaNya, hati betul tertunduk dalam derai airmata yang menetes satu - persatu kala itu, hati betul tertunduk dalam hembus nafas berat memohon ampun kala niat tak tertuju padaNya, sungguh hanya kepadaNya aku memohon, sungguh hanya kepadanya aku meminta pertolongan. Setelah itu aku buka Al qur'an yang aku bawa, membacanya dengan berharap mendapat ketenangan dalam hati untuk dapat berpikir dengan jernih.
Kuhentikan sejenak bacaanku dan melihat jam, saat itu waktu menunjukan pukul 10.50. Aku berniat untuk pulang 10 menit lagi, saat aku membereskan al qur'anku dan hendak memasukannya ke dalam tas, tiba-tiba aku melihat bayangan di lantai mesjid yang hendak menghampiriku dari belakang.
"Mas Rifqi?" Suara yang aku sangat kenal menyapaku dari belakang. Aku membalikan badanku dan ternyata pak Yanto yang menyapaku. "Jadi sebetulnya berapa uang yang adik butuhkan untuk acara hari ini? biar tak ambilkan untuk adik." lanjutnya.
Sontak hatiku terenyuh haru, serasa hari itu Allah telah memelukku dengan kasih sayang dan pertolongannya, sungguh bahagia ini tak dapat terukir dengan kata seindah apapun, sungguh kebahagiaan ini tak dapat tergambarkan dengan lukisan seindah apapun, sungguh hati yang tertunduk ini meneteskan air mata haru merasakan betapa indah cintaNya.
Langsung setelah menerima uang dari Asy Syiffa aku langsung bergegas pulang. Tapi saat mau pulang ternyata sepatuku ada yang mengambil, entah siapa, yang aku tahu sepatuku hilang saat itu. mencari berkeliling mesjid dengan pak Yanto tapi tak dapat ditemukan. Akhirnya pak Yanto memberiku sepasang sandal jepit sebagai bekalku agar tidak nyeker. "Mas ambil aja sendalnya buat mas, semoga dengan hilangnya sepatu menjadi pahala buat mas, dan dibalas dengan kebaikan yang jauh daripada harga sepatu oleh Allah ya mas." Kata pak Yanto.
"Aamiin.. iya pak ndak apa-apa, ini saya bawa sandalnya ya, semoga Allah membalas kebaikan bapak." jawabku.
Langsung aku pacu motorku menuju kampus. Gengsi dan harga diri tak kuasa membendung tangisku saat itu, tangis bahagia, tangis syukurku tak kuasa aku bendung sepanjang jalan, seraya aku memuji nama Allah. Subhanallah.
Sesampainya di kampus, satu lagi pertolongan Allah datang, peserta seminar yang awalnya sangat sedikit menjadi banyak sekali hingga hampir memenuhi target yang panitia tentukan, banyak sekali yang membeli tiket masuk on the spot. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar!
Dari situ aku belajar bahwa memang Dia lah yang maha menguasai segalanya, Dia lah yang patut kita berpasrah kepadaNya, Dia lah yang mampu membolak-balikan hati manusia, Dia lah yang memberikan pelajaran untuk menjadikan kualitas manusia baik dimataNya dengan cara dan rencana yang tak pernah kita duga. Allah betul-betul mengajarkan sebuah pembelajaran yang takkan pernah aku lupakan.

 "Fabi ayyi alaa irrobbikuma tukadzibaan | Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan engkau dustakan" (Q.S Ar Rahman).

Sabtu, 08 Februari 2014

Hargo Dumilah, 3265 mdpl

"Pokoknya kita harus berhasil berdiri di puncak, setelah ujian akhir catet di kalender kalian, 17 Januari kita mendaki!" Marwan sangat semangat sekali. "Puncak mana kita? Ungaran? Sindoro? Lawu?" Lanjutnya.
4 bulan yang lalu, di awal semester 3, jiwa petualang kami sangat menggebu, ingin lepaskan penat setelah akhir semester 3 dengan berdiri di puncak gunung di pendakian pertama kami.
Aku sangat bersemangat juga saat itu, begitupun dengan Nizar, Radi, dan Farid yang juga ikut nongkrong sambil ngobrol bareng di kelas saat dosen belum datang.
Matahari Desember 2013 sudah terbenam, perjalanan dan perjuangan akademis di semester 3 sudah usai, keringat bercucuran buahkan hasil maksimal, harga yang cukup mahal yang perlu di bayar oleh keringat dan kantong mata yang menghitam, ujian telah usai dengan hasil yang memuaskan bagiku. Matahari Januari 2014 pun siap menebar kehangatan di Tahun baru. Ternyata bumi berhasil berevolusi dengan mulus, mengantarkan kami mendekati 17 Januari 2014. Tapi sayang sekali jadwal yang sudah kami rencanakan jauh hari bentrok dengan Pendidikan Dasar TBM Maladica. Terpaksa kami batalkan rencana kami, tepatnya kami undur, tapi entah kapan belum kami tentukan waktunya.
Matahari Januari kini berselimut awan mendung yang sembunyikan senyum hangatnya dengan rintik hujan. Tapi hujan tak urungkan kegiatan diksar lapangan TBM Maladica di gunung Ungaran. Seru juga, mendaki juga, beretualang juga, tapi tak sampai puncak, badai sangat besar saat itu, penderitaan yang menyenangkan saat badai tersebut. Dingin, basah, menggigil, tapi asyik.
Diksarpun selesai 2 hari berikutnya, cukup melelahkan, tapi tak cukup lelah bagiku, Marwan, Nizar, Radi saat itu karena kami masih punya tekad berdiri di puncak. Akhirnya kami putuskan untuk mendaki lagi, Puncak gunung Lawu sasaran kami. Farid akan turut serta di pendakian kami, dia yang sudah pengalaman juga dengan Lawu.
Tanggal 23 Januari menjadi pilihan kami, kebetulan hari itu hari yang special juga untukku, hari dimana Mamahku berhasil memperkenalkan dunia padaku dengan mempertaruhkan nyawanya. Ya, itu hari ulang tahunku. Sayang sekali saat itu Radi tak jadi ikut mendaki, dia ingin pulang katanya. Akhirnya kami hanya aku, marwan, nizar dan farid yang berangkat. Hujan deras semalaman hingga subuh hujan masih deras, namun tak urungkan niat kami untuk berangkat.
Perjalanan Semarang-Karanganyar 4 jam kami tempuh dengan sepeda motor, rasanya carrier menyiksa selama perjalanan, menguras banyak energi bebani pundak selama dibonceng dengan motor 4 jam.
Sesampai di Karanganyar kami beristirahat, solat, ngaji, makan untuk persiapan fisik dan mental untuk pendakian. Sempat terasa rintik hujan menyapa kedatangan kami saat itu, kabut sangat tebal, sempat urungkan niat kami untuk mendaki pada malam tersebut. Tapi rasa takut terkalahkan dengan "lapisan tekad setebal baja, kaki yang ingin melangkah jauh dari biasanya, tangan yang akan banyak berbuat dari biasanya, mata yang ingin melihat lebih banyak dari biasanya, dan mulut yang selalu berdo'a" setidaknya kutipan dari novel 5cm itu cocok untuk semangat kami malam itu. Nekad memang, tapi hajar saja lah.
21.00 WIB, kabut seolah enggan untuk pergi, udara kian menit kian giat tuk telanjangi tubuh kami dari pakaian yang kami kenakan, dingin sekali. Tapi setidaknya perut terasa hangat terisi soto ayam dan segelas kopi jahe yang membuat mata semakin melek.
"Petualangan dimulai!" teriak hati kami setelah briefing dan berdo'a. Ya, petualangan telah dimulai pada 21.15 WIB setelah melewati gerbang awal pendakian gunung Lawu. Saat itu Farid menjadi leader, Marwan menjadi Sweeper (menejemen pendakian yang kami pelajari pada saat Diksar Lapangan  sangat berguna malam ini). Track pendakian berbatu, cukup rata di awal pendakian, kanan dan kiri hutan dan semak. Dzikir tak henti-hentinya terlantun di bibirku, agar selalu terbangun dan tidak melamun selama perjalanan "nekad" ini. Semakin lama mulai terasa otot-otot betis mulai terasa panas dan nafas mulai terengah-engah, setelah kuperhatikan ternyata tracknya mulai bebatuan terjal dan semakin meruncing tak beraturan, sangat tak bersahabat dengan telapak kaki yang membuat kaki terasa cepat lelah. Perjalanan cukup santai saat itu, mengingat stamina kami sudah terkuras selama perjalanan Semarang-Karanganyar. Perjalanan kami lanjutkan dan sampailah kami di pos 1. Perjalanan masih panjang, masih 4 pos lagi yang harus kami capai sebelum puncak. Setelah break sejenak di pos 1, perjalanan dilanjutkan.
Lelah mulai menggerayangi tubuh selama perjalanan menuju pos 2.
"Astahfirullah, ya Allah!" keluh kesakitan dari Nizar sambil memegangi perutnya. "Break!" teriakku melihat keadaan Nizar seperti itu. "Waduh perutku sakit banget! gak kuat!." Muka Nizar semakin pucat, keringatnya bercucuran walaupun saat itu udara sangat dingin. Kami bingung saat itu, mau balik ke bawah sudah jauh, sulit di jangkau dengan waktu yang cepat mengingat keadaan Nizar seperti itu.
"Zar coba kamu buang aja di semak, berdo'a dulu" ujarku, menebak bahwa nizar kena diare. Seolah tak pedulikan di semak itu ada ular atau apapun itu, rasa mulas yang luar biasa sepertinya membuat semak gelap yang rindang itu bagai toilet yang paling Nizar idamkan selama hidupnya dengan keadaan di tengah hutan seperti ini. Tugasku meneranginya dengan cahaya senterku, sambil aku membelakanginya. Tak kuasa aku menahan tawa membayangkan muka Nizar yang pucat dan menahan mulas, ditambah suara khas "pratt prett prott" yang  berpadu dengan jangkrik yang bernyanyi merdu serta suara hembus angin yang terdengar syahdu, seperti sebuah konser alam, "komposisi nada yang pas!" pikirku tertawa geli. Ada-ada saja kawanku ini. Setelah selesai bertempur di semak-semak langsung aku beri ia obat diare. Untung aku membawa persediaan medis lapangan cukup lengkap.
Okey, perjalanan kita lanjutkan, ekspresi muka Nizar masih belum normal, pucat, berkeringat, kasihan sekali, tapi sangat mengocok perut ingin ketawa melihatnya, ditambah lagi dengan imajinasi "konser alam" ku tadi.
Setelah agak jauh perjalanan dan beberapa kali break, perut Nizar kembali berkontraksi "ya Allah, astagfirullah, aduh mules sekali" kondisinya saat itu tak ada semak selebat tadi, tak ada toilet senyaman tadi. "Aduh udah di ujung nih! gak ada semak!" lirihnya. Akhirnya kantong kresek menjadi toilet ternyaman kedua selama hidup nizar pada malam itu. Pertempuran kembali dimulai dengan suara khasnya, konser alam juga dimulai lagi, kini jangkrik kian nyaring, dan ada bunyi tambahan dari kresek membuat kompleksitas nada semakin beragam, ciptakan simfoni yang berbeda dari yang pertama tadi.
"Ayo zar, abisin, sampe lega hehe" ujarku menyemangatinya.
Akhirnya usai sudah perjuangan Nizar, setelah pertarungan ronde 2 tak ada masalah lagi dengan perutnya, mungkin efek obat mulai bereaksi.
Jam menunjukan 22.30, belum sampai juga di pos 2, rasa lelah kian erat memeluk tubuh kami, banyak break saat itu. Setelah mengerahkan sisa tenaga yang ada, akhirnya kami sampai di pos 2. Kemudian kami kayuh lagi kaki kami melanjut ke pos 3, tapi di perjalanan menuju pos 3 sepertinya kami sudah kehabisan tenaga, juga kelopak mata kami terasa sangat berat, kami putuskan untuk tidur sejenak untuk memulihkan tenaga. Beratapkan langit, terintip oleh bintang-bintang yang berkedip tak sembunyi di balik awan mendung tak seperti biasanya malam ini begitu cerah di musim hujan, Allah ternyata lindungi kami, semoga pendakian kami tak terhadang badai, do'a menjadi kekuatan yang mutlak saat itu.
Bersandar pada carrierku, di atas batu yang cukup rata dan datar kerebahkan badan, menikmati kerlip bintang, mencoba pejamkan mata, kulihat teman-temanku sudah terlelap, "cepat sekali" pikirku. Aku masih belum bisa tidur, ku lihat jam, hampir 23.30.
Semua terasa gelap, suara hening membuat deru angin semakin terasa menggelegar, udara semakin lama semakin menusuk. 23.45, sepertinya tadi aku tertidur sebentar, terbangun oleh tusukan tajam dari udara gunung Lawu yang dingin saat itu. Badanku mulai menggigil, termostat di hipotalamusku mulai melewati ambang toleransinya. 00.30 aku masih terjaga, tak mampu pejamkan mata karena terusik oleh dingin yang luar biasa. "wuufhhhh dingin banget!" Marwan terbangun rupanya. "Mending kita lanjut jalan yu, kalau gak banyak gerak akan terasa sangat dingin, bahaya, lama-lama bisa hipotermi" sautku.
Akhirnya perjalanan menuju pos 3 dilanjutkan, track semakin lama semakin terjal, bukan hanya kaki yang berlu berusaha mendaki, kadang tanganpun perlu meraih bebatuan di atas untuk membantu mendaki. Sangat menguras energi, dan perasaan tak sampai-sampai ke pos tiga, jauh juga track dari pos 2 ke pos 3.
1.00, kelopak mataku terasa semakin berat, ngantuk sekali, ini kesalahanku tadi gak mampu menggunakan kesempatan tidur dengan optimal.
"Aku butuh tidur kayaknya, gak sanggup jalan lagi." keluhku dengan suara yang agak parau saat itu. Kami memutuskan untuk break tidur, kali ini beralaskan tanah, terasa lebih hangat di bandingkan di atas batu, akhirnya aku bisa terlelap, bersender pada carrierku.
"Yo bangun! udara semakin dingin" ajak Marwan. ku lihat jam tanganku menunjukan 2.00, cukup lama juga aku tidur. Perjalanan kami lanjutkan menuju pos 3 yang tak kunjung sampai. 3.20, kulihat langit mulai lebih terang, langit subuh mulai mendekat.
"Pos 3 udah kelihatan, yoh semangat!" saut Farid. Hampir jam 4 pagi, hampir sampai juga di pos 3.
Sesampainya di pos 3 kami putuskan untuk menunggu waktu subuh disana. 4.45 kami putuskan untuk sembahyang subuh, mengingat jadwal sholat di HP ku sudah masuk waktu subuh.
Setelah sholat subuh kami lanjutkan perjalanan menuju pos 4. Langit semakin terang, cahaya matahari mulai menyeringai dari balik pepohonan, nafas terasa semakin pendek dan sesak, oksigen menipis, track terlihat semakin terjal, otot-otot paha rasanya terasa panas setiap melangkah.
Sesampainya kami di pos 4 kami putuskan untuk lanjut ke pos 5, tak sabar rasanya ingin cepat memijakan kaki di puncak, semangat semakin menggebu, sampailah kami di pos 5. Subhanallah, pemandangan yang menakjubkan, kombinasi warna langit biru dan putih awan yang sempurna mampu menembus rasa lelah berganti menjadi rasa syukur pada Sang Pencipta yang menciptakan keindahan yang luar biasa.
Puncak semakin dekat, di pos 5 kami tinggalkan carrier kami agar beban tidak terlalu berat. Perjalanan dari pos 5 menuju puncak bsa di bilang surganya perjalanan, di suguhi pemandangan tebing yang megah, lautan awan terhampar dengan indahnya, percik sorot matahari malu-malu muncul dari balik tebing dan pepohonan, tumbuhan-tumbuhan gunung beserta warna bunga yang menambah keindahan dan kepuasan pandangan mata dan hati, sungguh Allah Maha Agung, Maha Indah, Maha Sempurna yang menciptakan keidahan yang luar biasa.
Setelah 11 jam kaki melangkah, setelah keringat banyak bercucuran ditengah udara yang dingin menusuk, setelah jantung berdetak kencang ketika ambisi kian menggebu, dan setiap lantunan do'a di setiap langkah yang iringi perjalanan kami, akhirnya kaki kecil ini memijak tanah puncak gunung Lawu.
Nafasku kian memburu, jantungku kian berdetak semakin kencang, renyuh haru menatap keindahan hasil perjuangan panjang, tertuang oleh sujud syukurku di tanah Hargo Dumilah, puncak gunung Lawu, ketinggian 3265 meter di atas permukaan laut, Karanganyar, Jawa Tengah. Subhanallah, Allahuakbar! 
"Rif, ini hadiah ulang tahun dari kami!!" ujar Marwan. "Hadiah yang sangat indah bro! Puncak Lawu!!!!" balasku.
Perjalanan yang bermakna, perjalanan mendaki pertamaku, pendakian di hari ulang tahunku, perjalanan ternekad di musim hujan, untungnya Allah Maha Penyayang mengahisi kami hingga tak setetespun air hujan turun untuk menyusahkan. Alhamdulillah.
Itulah cerita kami, kawanku, kusampaikan salam dari Hargo Dumilah, 3265 mdpl. Salam hangat kami (Rifqi, Marwan, Nizar, Farid).
Persiapan Menuju Karang Anyar















Sampai di Karanganyar, Cemoro Sewu, Masjid An Nur

Istirahat, Solat, Makan, Persiapan Mendaki

Menenangkan pikiran, perisiapan mendaki









































Siap Mendaki, Gerbang Cemoro Sewu


















Perjalanan malam















Sebentar lagi Puncak



















Hargo Dumilah, Puncak Gunung Lawu, 3265 mdpl















Nikmat dari Allah yang begitu indah, Samudera Awan dari Hargo Dumilah