Sabtu, 22 Maret 2014

Sahabat Kecil


Suatu hari, terik mentari memeluk syahdu ditengah deru ombak berirama nostalgia. Suasana khas pantai selalu menjadi satu kenangan yang terpaku dalam laci ingatan yang simpan segala memori itu.
Gelak tawa kepolosan anak-anak manusia yang diperkenalkan waktu untuk saling bertemu diwaktu belia. 
Nostalgia, selalu mengundang rindu tak terucap terpisahkan jarak dan waktu. Singkat sekali waktu pertemukan hati, tak sempat mengingat nama asli sang sahabat kecil itu, tak sempat aku hafal wajah sahabat kecil itu. 
Potret lugu berbaju oranye terang bersama sahabat kecilku di depan mobil tua berwarna merah menjadi satu salam terakhir ketika itu, tak tahu kapan waktu hendak pertemukan kembali. Terpisahkan waktu, melangkah di jalan mimpi dan cita tuk torehkan warna-warni kisah dalam lembaran hidup masing-masing.
Jalani kisah kehidupan, beranjak dewasa, terwarnai dan mewarnai dengan warna-warni kehiduan, mencari jati diri, merangkai kisah serta mimpi-mimpi, hingga laci ingatan itu berdebu dan usang tak pernah dibuka untuk sekedar nostalgia.
Ketika dewasa datang dengan pasti, waktu kembali mengiring langkah untuk membuka laci ingatan itu kembali. Tak sengaja aku temukan satu sosok yang tak asing, seperti mengalami de javu , "Pernah kenal dimana dengan gadis ini?" benakku bertanya dengan heran. Nama itu sama sekali aku tak mengingatnya, tapi wajah itu seolah tak asing.
Kembali ingatanku berkelana tuk hampiri nostalgia, teringat suasana itu, terik mentari cukup terasa menyengat iringi salam perpisahan 6 tahun lalu. "Mungkinkah?" benakku kembali bertanya.
"Sahabat kecil!" teriak hatiku terasa sangat gembira, menemukan satu coretan indah keceriaan anak-anak manusia belia di lembaran ingatan yang cukup berdebu dan usang.
Sahabat kecil, rindu bersenandung nostalgia seperti bunga yang bertumbuh dengan warna indah, aku dengan warnaku, engkau dengan warnamu.
Sahabat kecil, kamu membawa banyak kisah setelah perpisahan itu, begitupun denganku. Sahabat kecil, kamu membawa banyak mimpi setelah perpisahan itu, begitupun denganku. Kita telah banyak sekali melewati kisah masing-masing. Kapankah waktu kan pertemukan raga kita sahabat?
Sahabat, kisahmu menjadi warna dalam kisahku, mimpi-mimpi besarmu menjadi satu roda penggerakku untuk tetap bermimpi besar juga.
Sahabat, Semoga Sang Pemilik Waktu sudi tuk pertemukan kita dalam keadaan yang baik suatu hari nanti, semoga usia sampaikan kita untuk gapai mimpi-mimpi besar kita. Aamiin.

Jumat, 14 Maret 2014

Ketika Hati Betul Tertunduk (Pertolongan Allah itu Nyata part 2)

Sandal dengan Kenangan
Pekan itu merupakan pekan semester sisipan genap. Ya, aku harus memperbaiki beberapa nilai mata kuliah yang nilainya masih pas-pasan. Selain itu juga aku masih punya amanah menjadi kordinator acara Ramadhan. Tak seperti ramadhan biasanya, ini Ramadhan yang luar biasa, luar biasa ujiannya, luar biasa berkahnya.
Di tulisanku yang berjudul "Pertolongan Allah itu Nyata Part 1" aku sudah bercerita tentang betapa riweuhnya persiapan acara Tarhib Ramadhan yang penuh dengan hal yang membuat adrenalin melonjak membuat detak jantung tak karuan.
Setelah selesai acara Tarhib Ramadhan, masih banyak rangkaian acara selama Ramadhan yang kami agendakan, sungguh itu amanah pertemaku di organisasi dan langsung mendapat amanah yang aku rasa berat.
Kampus sangat sepi, terang saja, itu adalah pekan Semester Sisipan. Hal tersebut menjadi satu kendala yang paling krusial saat itu, "Siapa yang mau ikutan acara Ramadhan kami?? Fakultas lain sudah libur, hanya mahasiswa kedokteran yang tersisa.". Kekhawatiran kami ternyata benar, acara-acara lomba keterampilan agama yang kami adakan sepi peserta, bisa dihitung dengan jari, nangis hati ini, beban banget, merasa tidak becus, percaya diri down banget pokoknya.
Okey yang lalu biarlah berlalu, masih ada secerca harapan di acara terakhir kami di bulan Ramadhan, ini yang menjadi harapan kami sebagai GONG-nya acara gebyar Ramadhan 1434 H ini. Kami melakukan persiapan jauh-jauh hari, rapat demi rapat kami lalui, namun masih saja hati masih harap-harap cemas, takut acara terakhir ini kurang sukses seperti acara-acara sebelumnya. Pokoknya saat itu aku sangat berambisi untuk mensukseskan acara terakhir ini "Seminar Gebyar Ramadhan : "Maka Nikmat Tuhan mu yang manakah yang akan engkau dustakan?" Tema kajian keagamaan yang kami usung tentang rasa syukur, dengan pembicara Ramaditya Adikara (Seorang motivator tuna netra), dokter Jose Rizal (Relawan MER-C), dan dokter Abdul Mughni (Relawan MER-C, Novelis, Dosen kita yang pengalamannya segudang). 
Ternyata ujian yang harus kami hadapi gak cukup sampai lomba minim peserta, seminar kami pun sekitar H-1 minggu masih sangat minim peserta. Aku ingat sekali waktu itu peserta baru ada 13. Bayangkan! target kami 200 peserta dan H-seminggu masih 13. Ditambah lagi masalah pendanaan yang imposible banget kalo dipikir secara logika dan batas pemikiran manusia. Dana kami mendekati 0 saat itu, padahal sound sistem, pembicara konsumsi dan lain-lain sudah dipesan. Kami kebingungan mau pake dana dari mana, mengandalkan sisa dana acara Tarhib saja tidak cukup. Usaha kesana-kemari, tanya sana tanya sini, lari sana lari sini, tak membuahkan hasil. Frustasi rasanya, marah rasanya pada diri merasa tidak becus, rasanya ketahanan mentalku sudah berada di ambang batas garis "merah", depresi rasanya. Ternyata tak cukup ujian sampai minim peserta dan minim dana, berbagai kecaman datang dari ikhwah yang lain terkait salah satu pembicara yang katanya beraliran syi'ah, dan saat itu aku gak paham apa itu syi'ah dan lain sebagainya. Sampai kakak kelasku debat di media sosial memperjuangkan bahwa pembahasan yang akan kami usung bukan tentang aqidah, tapi carieer sharing pengalaman dan perjuang hidup pembicara tersebut. Sungguh masalah datang bertubi-tubi dan seolah tak ada titik pencerahan. Betul-betul saat mendekati hari H, depresi dan frustasi sudah betul-betul maksimal, seolah tak ada daya pada diri untuk bergerak, lelah sekali rasanya untuk menghadapi semua ujian ini. Selama Ramadhan aku tak pernah tidur nyenyak, selalu terbangun disetiap berapa menit aku tidur dan panik.
Saat itu aku menjadi satu orang yang betul-betul memendam masalah sendirian, aku tak cerita kepada orangtua karena tak ingin merepotkan dan membuat khawatir, aku selalu menunjukan wajah tenang dan selalu menenangkan panitia lain agar tidak cemas, padahal mental dan hatiku saat itu betul-betul remuk tak karuan.
H-1 peserta masih sedikit, tapi disetiap penambahan jumlah peserta disetiap harinya terasa sangat berarti walaupun hanya 1 atau 2 orang. Masalah pendanaan kami mencoba mengusahakan pinjaman dana dari mesjid Asy Syiffa. Malam itu aku dihubungi kak Bagus, kakak kelas yang kebetulan pengurus Asy Syiffa, aku disuruh ke Asy syiffa bertemu Pak Yanto besok paginya (hari H), katanya kami dapat pinjaman dari Asy Syiffa 3,5 jt. Malam itu aku langsung mengurus surat peminjaman, hari H paginya aku langsung menuju Asy syiffa untuk bertemu dengan pak Yanto, kebetulan acara seminar Ramadhan akan dimulai bakda dzuhur.
Sebelumnya aku mencoba menghubungi Pak Yanto namun ternyata handphone nya tak aktif, "Lakhaula wala kuwwata illa billah" aku langsung menuju Asy Syiffa, Perjalanan dari kampus menuju Asy Syiffa cukup jauh, perlu ditempuh 30 menit dengan motorku. 
Sesampainya di Asy Syiffa aku sangat cemas, kalau pinjaman ini gak jadi, mau bayar pembicara pake apa coba kalau gak ada sepeserpun dana. Aku celingukan di Mesjid, mencari pak Yanto tak kunjung ketemu. Saat kebingungan begitu, "Mas Rifqi mencari siapa?" suara berasal dari belakangku dan aku kenal suara itu adalah suara pak Yanto. "Alhamdulillah" hela napasku "Saya mencari bapak, ingin menanyakan terkait hal pminjaman dana untuk acara Ramadhan, kebetulan hari ini acaranya pak, Pak Zulfa katanya sudah acc" lanjutku. "Loh pinjaman apa dek? Pak Zulfa belum ngontak saya dek." jawab pak Yanto heran. Sontak rasanya leher dan telingaku panas rasanya, jantungku merasakan efek dari aliran adrenalin yang begitu derasnya, lemas sekali rasanya. "Ya sudah saya ke tempat kerja dulu ya dek, nanti saya kabari kalau pak Zulfa sudah menghubungi saya, tapi kok dari kemarin saya ketemu beliau gak ada obrolan ke arah sini dek, adek tahu sendiri keadaan keuangan asy syiffa belum pulih." Pak Yanto langsung pergi dengan motornya.
       Terasa tersambar petir, panas sekali rasanya seluruh badan. Bingung, sedih, takut, semua kefrustasian selama memegang amanah ini seperti seolah mencapai klimaksnya, terakumulasi menjadi sebuah puncak kefrustasian seolah dalam hati berteriak dengan begitu keras. Aku terduduk di emperan Mesjid Asy Syiffa untuk sejenak, pikiran terasa kosong, semua beban ini, semua pikiran ini seolah meledak memuntahkan isinya hingga kosong. Waktu menunjukan pukul 9.30 di jam ku. Acara Seminar Gebyar Ramadhan akan dimulai ba'da dzuhur nanti. Jantung berdetak dengan cepatnya seolah ingin meloncat dari tempatnya, nafas tersengal ingin menangis tapi enggan. Akhirnya langkah menyerah terguntai lemas menuju parkiran motor untuk pulang ke kampus tanpa hasil. Kabar ini mungkin akan membuat panitia Gebyar kebingungan dan stress, raut bingung dan kecewa dan teman-teman sudah sangat tervisualisasi di dalam pikiranku. Entahlah, saat itu aku seolah berjalan di kegelapan yang begitu pekat tak mengerti arah mana yang akan membawaku, seolah angin kan hembuskanku bagai butiran debu yang pasrah akan dibawa ke mana.
Sampailah aku di motorku, hendak menggunakan helm, merenung sejenak, ingin menangis sebenarnya tapi harga diriku terlalu mahal hingga enggan untuk menangis.
Entah ada apa tiba-tiba hati tergerak untuk melepas helm dan ingin kembali ke mesjid, berat sekali rasanya untuk pulang. Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke Asy syiffa, hendak melaksanakan sholat duha. Selesai sholat duha, aku merenungi apa yang sedang terjadi saat ini, merenungi apakah ini ujian ataukah adzab. Saat itu aku betul-betul mengintrospeksi diri, mungkin ada yang salah dengan niatku menjalankan amanah ini, semuanya aku renungi, hingga hati ini betul tertunduk dan berpasrah hanya pada Allah, kuserahkan segala urusan ini kepada Allah, hanya Allah yang mampu memampukan aku untuk selesaikan ujiannya. Hati betul tertunduk dalam sujud yang begitu penuh kepasrahan kepadaNya, hati betul tertunduk dalam derai airmata yang menetes satu - persatu kala itu, hati betul tertunduk dalam hembus nafas berat memohon ampun kala niat tak tertuju padaNya, sungguh hanya kepadaNya aku memohon, sungguh hanya kepadanya aku meminta pertolongan. Setelah itu aku buka Al qur'an yang aku bawa, membacanya dengan berharap mendapat ketenangan dalam hati untuk dapat berpikir dengan jernih.
Kuhentikan sejenak bacaanku dan melihat jam, saat itu waktu menunjukan pukul 10.50. Aku berniat untuk pulang 10 menit lagi, saat aku membereskan al qur'anku dan hendak memasukannya ke dalam tas, tiba-tiba aku melihat bayangan di lantai mesjid yang hendak menghampiriku dari belakang.
"Mas Rifqi?" Suara yang aku sangat kenal menyapaku dari belakang. Aku membalikan badanku dan ternyata pak Yanto yang menyapaku. "Jadi sebetulnya berapa uang yang adik butuhkan untuk acara hari ini? biar tak ambilkan untuk adik." lanjutnya.
Sontak hatiku terenyuh haru, serasa hari itu Allah telah memelukku dengan kasih sayang dan pertolongannya, sungguh bahagia ini tak dapat terukir dengan kata seindah apapun, sungguh kebahagiaan ini tak dapat tergambarkan dengan lukisan seindah apapun, sungguh hati yang tertunduk ini meneteskan air mata haru merasakan betapa indah cintaNya.
Langsung setelah menerima uang dari Asy Syiffa aku langsung bergegas pulang. Tapi saat mau pulang ternyata sepatuku ada yang mengambil, entah siapa, yang aku tahu sepatuku hilang saat itu. mencari berkeliling mesjid dengan pak Yanto tapi tak dapat ditemukan. Akhirnya pak Yanto memberiku sepasang sandal jepit sebagai bekalku agar tidak nyeker. "Mas ambil aja sendalnya buat mas, semoga dengan hilangnya sepatu menjadi pahala buat mas, dan dibalas dengan kebaikan yang jauh daripada harga sepatu oleh Allah ya mas." Kata pak Yanto.
"Aamiin.. iya pak ndak apa-apa, ini saya bawa sandalnya ya, semoga Allah membalas kebaikan bapak." jawabku.
Langsung aku pacu motorku menuju kampus. Gengsi dan harga diri tak kuasa membendung tangisku saat itu, tangis bahagia, tangis syukurku tak kuasa aku bendung sepanjang jalan, seraya aku memuji nama Allah. Subhanallah.
Sesampainya di kampus, satu lagi pertolongan Allah datang, peserta seminar yang awalnya sangat sedikit menjadi banyak sekali hingga hampir memenuhi target yang panitia tentukan, banyak sekali yang membeli tiket masuk on the spot. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar!
Dari situ aku belajar bahwa memang Dia lah yang maha menguasai segalanya, Dia lah yang patut kita berpasrah kepadaNya, Dia lah yang mampu membolak-balikan hati manusia, Dia lah yang memberikan pelajaran untuk menjadikan kualitas manusia baik dimataNya dengan cara dan rencana yang tak pernah kita duga. Allah betul-betul mengajarkan sebuah pembelajaran yang takkan pernah aku lupakan.

 "Fabi ayyi alaa irrobbikuma tukadzibaan | Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan engkau dustakan" (Q.S Ar Rahman).

Sabtu, 08 Februari 2014

Hargo Dumilah, 3265 mdpl

"Pokoknya kita harus berhasil berdiri di puncak, setelah ujian akhir catet di kalender kalian, 17 Januari kita mendaki!" Marwan sangat semangat sekali. "Puncak mana kita? Ungaran? Sindoro? Lawu?" Lanjutnya.
4 bulan yang lalu, di awal semester 3, jiwa petualang kami sangat menggebu, ingin lepaskan penat setelah akhir semester 3 dengan berdiri di puncak gunung di pendakian pertama kami.
Aku sangat bersemangat juga saat itu, begitupun dengan Nizar, Radi, dan Farid yang juga ikut nongkrong sambil ngobrol bareng di kelas saat dosen belum datang.
Matahari Desember 2013 sudah terbenam, perjalanan dan perjuangan akademis di semester 3 sudah usai, keringat bercucuran buahkan hasil maksimal, harga yang cukup mahal yang perlu di bayar oleh keringat dan kantong mata yang menghitam, ujian telah usai dengan hasil yang memuaskan bagiku. Matahari Januari 2014 pun siap menebar kehangatan di Tahun baru. Ternyata bumi berhasil berevolusi dengan mulus, mengantarkan kami mendekati 17 Januari 2014. Tapi sayang sekali jadwal yang sudah kami rencanakan jauh hari bentrok dengan Pendidikan Dasar TBM Maladica. Terpaksa kami batalkan rencana kami, tepatnya kami undur, tapi entah kapan belum kami tentukan waktunya.
Matahari Januari kini berselimut awan mendung yang sembunyikan senyum hangatnya dengan rintik hujan. Tapi hujan tak urungkan kegiatan diksar lapangan TBM Maladica di gunung Ungaran. Seru juga, mendaki juga, beretualang juga, tapi tak sampai puncak, badai sangat besar saat itu, penderitaan yang menyenangkan saat badai tersebut. Dingin, basah, menggigil, tapi asyik.
Diksarpun selesai 2 hari berikutnya, cukup melelahkan, tapi tak cukup lelah bagiku, Marwan, Nizar, Radi saat itu karena kami masih punya tekad berdiri di puncak. Akhirnya kami putuskan untuk mendaki lagi, Puncak gunung Lawu sasaran kami. Farid akan turut serta di pendakian kami, dia yang sudah pengalaman juga dengan Lawu.
Tanggal 23 Januari menjadi pilihan kami, kebetulan hari itu hari yang special juga untukku, hari dimana Mamahku berhasil memperkenalkan dunia padaku dengan mempertaruhkan nyawanya. Ya, itu hari ulang tahunku. Sayang sekali saat itu Radi tak jadi ikut mendaki, dia ingin pulang katanya. Akhirnya kami hanya aku, marwan, nizar dan farid yang berangkat. Hujan deras semalaman hingga subuh hujan masih deras, namun tak urungkan niat kami untuk berangkat.
Perjalanan Semarang-Karanganyar 4 jam kami tempuh dengan sepeda motor, rasanya carrier menyiksa selama perjalanan, menguras banyak energi bebani pundak selama dibonceng dengan motor 4 jam.
Sesampai di Karanganyar kami beristirahat, solat, ngaji, makan untuk persiapan fisik dan mental untuk pendakian. Sempat terasa rintik hujan menyapa kedatangan kami saat itu, kabut sangat tebal, sempat urungkan niat kami untuk mendaki pada malam tersebut. Tapi rasa takut terkalahkan dengan "lapisan tekad setebal baja, kaki yang ingin melangkah jauh dari biasanya, tangan yang akan banyak berbuat dari biasanya, mata yang ingin melihat lebih banyak dari biasanya, dan mulut yang selalu berdo'a" setidaknya kutipan dari novel 5cm itu cocok untuk semangat kami malam itu. Nekad memang, tapi hajar saja lah.
21.00 WIB, kabut seolah enggan untuk pergi, udara kian menit kian giat tuk telanjangi tubuh kami dari pakaian yang kami kenakan, dingin sekali. Tapi setidaknya perut terasa hangat terisi soto ayam dan segelas kopi jahe yang membuat mata semakin melek.
"Petualangan dimulai!" teriak hati kami setelah briefing dan berdo'a. Ya, petualangan telah dimulai pada 21.15 WIB setelah melewati gerbang awal pendakian gunung Lawu. Saat itu Farid menjadi leader, Marwan menjadi Sweeper (menejemen pendakian yang kami pelajari pada saat Diksar Lapangan  sangat berguna malam ini). Track pendakian berbatu, cukup rata di awal pendakian, kanan dan kiri hutan dan semak. Dzikir tak henti-hentinya terlantun di bibirku, agar selalu terbangun dan tidak melamun selama perjalanan "nekad" ini. Semakin lama mulai terasa otot-otot betis mulai terasa panas dan nafas mulai terengah-engah, setelah kuperhatikan ternyata tracknya mulai bebatuan terjal dan semakin meruncing tak beraturan, sangat tak bersahabat dengan telapak kaki yang membuat kaki terasa cepat lelah. Perjalanan cukup santai saat itu, mengingat stamina kami sudah terkuras selama perjalanan Semarang-Karanganyar. Perjalanan kami lanjutkan dan sampailah kami di pos 1. Perjalanan masih panjang, masih 4 pos lagi yang harus kami capai sebelum puncak. Setelah break sejenak di pos 1, perjalanan dilanjutkan.
Lelah mulai menggerayangi tubuh selama perjalanan menuju pos 2.
"Astahfirullah, ya Allah!" keluh kesakitan dari Nizar sambil memegangi perutnya. "Break!" teriakku melihat keadaan Nizar seperti itu. "Waduh perutku sakit banget! gak kuat!." Muka Nizar semakin pucat, keringatnya bercucuran walaupun saat itu udara sangat dingin. Kami bingung saat itu, mau balik ke bawah sudah jauh, sulit di jangkau dengan waktu yang cepat mengingat keadaan Nizar seperti itu.
"Zar coba kamu buang aja di semak, berdo'a dulu" ujarku, menebak bahwa nizar kena diare. Seolah tak pedulikan di semak itu ada ular atau apapun itu, rasa mulas yang luar biasa sepertinya membuat semak gelap yang rindang itu bagai toilet yang paling Nizar idamkan selama hidupnya dengan keadaan di tengah hutan seperti ini. Tugasku meneranginya dengan cahaya senterku, sambil aku membelakanginya. Tak kuasa aku menahan tawa membayangkan muka Nizar yang pucat dan menahan mulas, ditambah suara khas "pratt prett prott" yang  berpadu dengan jangkrik yang bernyanyi merdu serta suara hembus angin yang terdengar syahdu, seperti sebuah konser alam, "komposisi nada yang pas!" pikirku tertawa geli. Ada-ada saja kawanku ini. Setelah selesai bertempur di semak-semak langsung aku beri ia obat diare. Untung aku membawa persediaan medis lapangan cukup lengkap.
Okey, perjalanan kita lanjutkan, ekspresi muka Nizar masih belum normal, pucat, berkeringat, kasihan sekali, tapi sangat mengocok perut ingin ketawa melihatnya, ditambah lagi dengan imajinasi "konser alam" ku tadi.
Setelah agak jauh perjalanan dan beberapa kali break, perut Nizar kembali berkontraksi "ya Allah, astagfirullah, aduh mules sekali" kondisinya saat itu tak ada semak selebat tadi, tak ada toilet senyaman tadi. "Aduh udah di ujung nih! gak ada semak!" lirihnya. Akhirnya kantong kresek menjadi toilet ternyaman kedua selama hidup nizar pada malam itu. Pertempuran kembali dimulai dengan suara khasnya, konser alam juga dimulai lagi, kini jangkrik kian nyaring, dan ada bunyi tambahan dari kresek membuat kompleksitas nada semakin beragam, ciptakan simfoni yang berbeda dari yang pertama tadi.
"Ayo zar, abisin, sampe lega hehe" ujarku menyemangatinya.
Akhirnya usai sudah perjuangan Nizar, setelah pertarungan ronde 2 tak ada masalah lagi dengan perutnya, mungkin efek obat mulai bereaksi.
Jam menunjukan 22.30, belum sampai juga di pos 2, rasa lelah kian erat memeluk tubuh kami, banyak break saat itu. Setelah mengerahkan sisa tenaga yang ada, akhirnya kami sampai di pos 2. Kemudian kami kayuh lagi kaki kami melanjut ke pos 3, tapi di perjalanan menuju pos 3 sepertinya kami sudah kehabisan tenaga, juga kelopak mata kami terasa sangat berat, kami putuskan untuk tidur sejenak untuk memulihkan tenaga. Beratapkan langit, terintip oleh bintang-bintang yang berkedip tak sembunyi di balik awan mendung tak seperti biasanya malam ini begitu cerah di musim hujan, Allah ternyata lindungi kami, semoga pendakian kami tak terhadang badai, do'a menjadi kekuatan yang mutlak saat itu.
Bersandar pada carrierku, di atas batu yang cukup rata dan datar kerebahkan badan, menikmati kerlip bintang, mencoba pejamkan mata, kulihat teman-temanku sudah terlelap, "cepat sekali" pikirku. Aku masih belum bisa tidur, ku lihat jam, hampir 23.30.
Semua terasa gelap, suara hening membuat deru angin semakin terasa menggelegar, udara semakin lama semakin menusuk. 23.45, sepertinya tadi aku tertidur sebentar, terbangun oleh tusukan tajam dari udara gunung Lawu yang dingin saat itu. Badanku mulai menggigil, termostat di hipotalamusku mulai melewati ambang toleransinya. 00.30 aku masih terjaga, tak mampu pejamkan mata karena terusik oleh dingin yang luar biasa. "wuufhhhh dingin banget!" Marwan terbangun rupanya. "Mending kita lanjut jalan yu, kalau gak banyak gerak akan terasa sangat dingin, bahaya, lama-lama bisa hipotermi" sautku.
Akhirnya perjalanan menuju pos 3 dilanjutkan, track semakin lama semakin terjal, bukan hanya kaki yang berlu berusaha mendaki, kadang tanganpun perlu meraih bebatuan di atas untuk membantu mendaki. Sangat menguras energi, dan perasaan tak sampai-sampai ke pos tiga, jauh juga track dari pos 2 ke pos 3.
1.00, kelopak mataku terasa semakin berat, ngantuk sekali, ini kesalahanku tadi gak mampu menggunakan kesempatan tidur dengan optimal.
"Aku butuh tidur kayaknya, gak sanggup jalan lagi." keluhku dengan suara yang agak parau saat itu. Kami memutuskan untuk break tidur, kali ini beralaskan tanah, terasa lebih hangat di bandingkan di atas batu, akhirnya aku bisa terlelap, bersender pada carrierku.
"Yo bangun! udara semakin dingin" ajak Marwan. ku lihat jam tanganku menunjukan 2.00, cukup lama juga aku tidur. Perjalanan kami lanjutkan menuju pos 3 yang tak kunjung sampai. 3.20, kulihat langit mulai lebih terang, langit subuh mulai mendekat.
"Pos 3 udah kelihatan, yoh semangat!" saut Farid. Hampir jam 4 pagi, hampir sampai juga di pos 3.
Sesampainya di pos 3 kami putuskan untuk menunggu waktu subuh disana. 4.45 kami putuskan untuk sembahyang subuh, mengingat jadwal sholat di HP ku sudah masuk waktu subuh.
Setelah sholat subuh kami lanjutkan perjalanan menuju pos 4. Langit semakin terang, cahaya matahari mulai menyeringai dari balik pepohonan, nafas terasa semakin pendek dan sesak, oksigen menipis, track terlihat semakin terjal, otot-otot paha rasanya terasa panas setiap melangkah.
Sesampainya kami di pos 4 kami putuskan untuk lanjut ke pos 5, tak sabar rasanya ingin cepat memijakan kaki di puncak, semangat semakin menggebu, sampailah kami di pos 5. Subhanallah, pemandangan yang menakjubkan, kombinasi warna langit biru dan putih awan yang sempurna mampu menembus rasa lelah berganti menjadi rasa syukur pada Sang Pencipta yang menciptakan keindahan yang luar biasa.
Puncak semakin dekat, di pos 5 kami tinggalkan carrier kami agar beban tidak terlalu berat. Perjalanan dari pos 5 menuju puncak bsa di bilang surganya perjalanan, di suguhi pemandangan tebing yang megah, lautan awan terhampar dengan indahnya, percik sorot matahari malu-malu muncul dari balik tebing dan pepohonan, tumbuhan-tumbuhan gunung beserta warna bunga yang menambah keindahan dan kepuasan pandangan mata dan hati, sungguh Allah Maha Agung, Maha Indah, Maha Sempurna yang menciptakan keidahan yang luar biasa.
Setelah 11 jam kaki melangkah, setelah keringat banyak bercucuran ditengah udara yang dingin menusuk, setelah jantung berdetak kencang ketika ambisi kian menggebu, dan setiap lantunan do'a di setiap langkah yang iringi perjalanan kami, akhirnya kaki kecil ini memijak tanah puncak gunung Lawu.
Nafasku kian memburu, jantungku kian berdetak semakin kencang, renyuh haru menatap keindahan hasil perjuangan panjang, tertuang oleh sujud syukurku di tanah Hargo Dumilah, puncak gunung Lawu, ketinggian 3265 meter di atas permukaan laut, Karanganyar, Jawa Tengah. Subhanallah, Allahuakbar! 
"Rif, ini hadiah ulang tahun dari kami!!" ujar Marwan. "Hadiah yang sangat indah bro! Puncak Lawu!!!!" balasku.
Perjalanan yang bermakna, perjalanan mendaki pertamaku, pendakian di hari ulang tahunku, perjalanan ternekad di musim hujan, untungnya Allah Maha Penyayang mengahisi kami hingga tak setetespun air hujan turun untuk menyusahkan. Alhamdulillah.
Itulah cerita kami, kawanku, kusampaikan salam dari Hargo Dumilah, 3265 mdpl. Salam hangat kami (Rifqi, Marwan, Nizar, Farid).
Persiapan Menuju Karang Anyar















Sampai di Karanganyar, Cemoro Sewu, Masjid An Nur

Istirahat, Solat, Makan, Persiapan Mendaki

Menenangkan pikiran, perisiapan mendaki









































Siap Mendaki, Gerbang Cemoro Sewu


















Perjalanan malam















Sebentar lagi Puncak



















Hargo Dumilah, Puncak Gunung Lawu, 3265 mdpl















Nikmat dari Allah yang begitu indah, Samudera Awan dari Hargo Dumilah

Jumat, 07 Februari 2014

Lukisan Indah

Lukisan indah, seolah tak ingin kehilangan moment untuk terlewatkan disetiap hari untuk menikmati keindahan kombinasi warna yang tertuang dalam kanvas oleh tangan Sang Maestro nada-nada warna dan garis yang sangat kreatif.
Ketika intensitas itu terlalu berlebih, seolah tersadar bahwa ada yang salah dengan caraku menikmati keindahan lukisan itu, ada yang salah dengan caraku mencintai lukisan tersebut. Ya, Sang Mastro tentu tak ingin hanya apa yg tertuang dan terlihat di kanvas saja yg dicintai, tapi setiap maksud yang tergores dan tersampaikan melalui warna-warna itu yang harus aku cintai dan aku fahami. Karena apa? Warna dan keindahan yang kita lihat mampu memudar tanpa toleransi tergores kejamnya waktu, jika aku hanya menikmati keindahan itu oleh mata dan logika saja, tanpa mengerti maksud dari kecintaanku yang tercipta oleh tangan kreatif Sang maestro, tentu akan fana dan menipis layaknya cat warna yang memudar terkikis zaman. Akhirnya aku mencoba untuk fahami setiap garis, setiap warna, setiap tempo dan gradasi warna menjadi sebuah pesan yang jauh lebih indah dibanding dengan apa yg hanya aku lihat dengan logika dan mata yang fana. Ketika keindahan itu memudar, namun cinta akan tetap ada tak berkurang sedikitpun, karena keindahan yang sejati mengalir di setiap aliran darah, masuk ke jantung dan berada di setiap detakkannya. Itulah cinta, itulah cara mencintai, logika tak cukup untuk mencintai, mata tak cukup untuk mencintai, namun ketika cinta itu difahami dengan benar, mengalir layaknya darah hangat yang mampu mengalirkan kehangatan ke seluruh tubuh, yang mampu tepis lelah kala pantaskan diri, cinta itu akan tetap bersemayam dalam hati, cinta itu akan bertahan dari badai waktu yang menerjang, cinta itu akan teguh bertahan walau terpisah jurang terjal hingga jembatan "kepantasan" siap disebrangi untuk menjemput lukisan indah di seberang sana.

Kembali lagi teringat nasihat Imam Syafi'i "Bersabarlah dengan sabar yang hanya sebentar saja..".

Sabtu, 11 Januari 2014

Kelingking yang Saling Bertaut

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." ( Q.S As Saff : 4).

Bismillahirohmanirohim. Sedikit bercerita, di kamis sore, saat itu aku sedang di satu mesjid hendak melaksanakan sholat magrib. Adzan telah berkumandang, langsung ku tutup lembaran "muqodimah" kitab ilmi sorfi wa nahwa yang sedang ku baca dan hendak ku setorkan bacaanku ke ustadz pembimbingku. Aku bersamaa santri-santri yang lain bergegas mengambil air wudlu. Qodarullah, aku di tunjukkan jalan untuk tergerak hati menimba ilmu bersama orang-orang soleh di samping aku juga sedang menimba ilmu kedokteran, hendaknya ilmu dunia berjalan mesra dengan ilmu agama, dinnul Islam.
Lalu Iqomah pun berkumandang, segera aku menuju saff solat, saat itu aku berada di saff ke dua, sebelah kananku adalah santri yang masih sangat muda, mungkin usianya sekitar 6 atau 7 tahun.
"luruskan dan rapatkan saff.." seru Imam solat berjamaah magrib saat itu. Segera aku luruskan saffku dengan kanan dan kiriku. Anak kecil di sampingku pun merapikan saffnya, merapatkan kelingking kakinya dengan sebelahnya juga tentu denganku.
Kamudian saat bangkit dari sujud, kakiku terlepas dari rapat saff, belum sempat aku merapikan saffku lagi, tahukah apa yang terjadi?? Anak kecil itu menengok ke bawah dan seolah bergegas menautkan kelingking kakinya dengan kakiku hingga saff kembali rapat dan rapi. Setelah rapi pun anak itu selalu menengok ke arah kaki-kakinya seolah memastikan bahwa saffnya rapi dan rapat. Begitupun seterusnya hingga rakaat terakhir. Subhanallah, Allah menunjukkan hal yang luar biasa hari itu, sebuah pengajaran yang tak disangka-sangka kedatangannya, pengajaran melalui seorang anak kecil yang tahu betul urgensi merapatkan barisan dalam solat. Hakikatnya bukan hanya dalam sholat kita sebagai muslim harus merapatkan barisan, tapi dalam berbagai hal seorang muslim dengan muslim yang lain harus merapatkan barisannya untuk membela agama Allah, untuk mewujudkan mimpi Rasullullah Solallahu'alaihi wassalam. Seharusnya ini yang perlu kita fahami bersama, ingatlah bahwa Allah mencintai muslim yang berjuang di jalan Allah dengan barisan yang teratur, artinya, kita muslim harus saling bahu - membahu dalam ingat - mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Bukan saling menyalahkan, bukan saling menjelekan, bukan saling mempertahankan ego dan idealisme masing-masing,  yang sekarang sedang terjadi. Sungguh ironis sekali, sedih rasanya, fitnah dan adu domba masa lampau yang dilakukan oleh orang-orang munafik berhasil memecah belah persatuan muslim. Yang seharusnya lillahita'ala, yang terjadi sekarang adalah kepentingan dan kepuasan sebuah golongan. Na'udzubillah tsumma nau'dzubillah. Coba kita buka mata, kita tak bisa hanya menutup mata dari fenomena yang terjadi saat ini, sudah saatnya kita kembali luruskan niat wahai sodara muslimku, sudah saatnya hati dan niat kita saling bertaut layaknya kelingking yang saling bertaut kala solat berjamaah. Semoga Allah senantiasa meridhoi di setiap langkah kita kala hati tertuju pada-Nya. Hasbunallah, hasbunallah, hasbunallah. :)

Selasa, 07 Januari 2014

Segelas Es Jeruk

Siang itu adalah siang yang paling menegangkan bagiku, hari itu adalah hari penentuan ikhtiar terakhirku di mata kuliah anatomi yang setahun terakhir ini telah menjadi sesuatu yang menyeramkan dan menghantui setiap saat.
Tercantum di jadwal ujian identifikasi anatomi mulai jam 12.10 dan saat itu masih jam 11.30. Aku memutuskan untuk makan terlebih dahulu untuk memenuhi asupan glukosa otak yang akan segera dikuras habis sesaat setelah masuk lab anat. Tak banyak makanan yang aku ambil di piringku agar tidak ngantuk akibat kebanyakan makan, walaupun pada akhirnya ngantuk sekali saat menunggu namaku dipanggil untuk beraksi. Saat itu aku memesan air bening, karena biasanya juga pesan itu (ngirit hehe).
Menunggu lama sekali, air bening pesananku tak kunjung datang. Memang sih saat itu warung lagi rame, aku saja makan membawa 3 orang temanku yang juga pesan air bening (sama2 ngirit padahal awal bulan). Akhirnya keempat gelas minuman pesanan di meja kami datang, tapi ada yang aneh, padahal kami pesan air bening 4 tp yg datang adalah air bening 3 dan es jeruk 1. Kami berempat lirik-lirikan seolah tak ingin jadi tersangka salah pesan karena harus mengeluarkan uang untuk es jeruk hehe. Tapi akhirnya aku yang mengambil es jeruk tersebut, aku pikir gak apa-apa lah keluar uang lebih banyak sedikit dan juga es jeruk kelihatan sangan menyegarkan di siang yang cukup panas hari itu.
Setelah selesai makan kami bergegas menuju gedung lab tempat ujian anatomi. Menunggu lama sekali untuk namaku di panggil, padahal badan sudah sangat lelah, kelopak mata sudah menjadi bagian dari tubuh yang paling berat, hasil dari persiapan belajar untuk ujian akhir semester 3 ini. Tapi bersyukur juga namaku belum dipanggil hingga mahasiswa di ruang karantina tinggal sedikit, menyisakan orang-orang yang notabene pandai di anatomi dan selalu dipanggil akhir-akhir, artinya akumulasi nilai anatomiku saat itu tidak buruk, Alhamdulillah. "Rifqi Aziz Fauzian...." teriak salah satu temanku yang saat itu tugas mengabsen. Artinya giliranku beraksi untuk mengerjakan soal iden besar anatomi, bimillah. Dengan yakin dan menjaga senyum di wajah dan di hati agar tidak tegant saat mengerjakan. Qodarullah, Allah melapangkan pemikiranku saat itu hingga aku tak menemukan banyak kesulitan.
Saat keluar dari laboratorium anatomi, menghirup napas panjang lega, mencium aroma formalin yang insyaAllah ini aroma terakhir yang aku cium setelah lulus anatomi hehe (optimis).
Keesokan harinya aku coba cek ke bagian anatomi apakah nilainya sudah keluar atau belum, ternyata belum. Keesokan harinya juga aku cek, ternyata belum juga, makin saja hati cemas takut nilai tak sesuai harapan. Sore harinya, saat belajar untuk ujian histologi. Tiba-tiba "Alhamdulillaaaaaaaaah!" teriak teman tetangga kamarku. "apa rad?!! Nilai anat udah keluar?" tanyaku cemas. "iya qi. Nilai anat nih, kita dapat B!!". Langsung mukaku memerah, ingin mneteskan air mata bahagia tapi segan, hanya terekspresi oleh sujud syukur dan hamdallahku saat itu. Terang saja aku amat merasakan nikmat bahagia yang Allah beri, membayangkan nilai sementaraku setelah situs Thoracis yang orang lain berkata situs paling mudah TAPI bagiku situs yang membuat nilaiku menjadi warna merah, artinya aku mendapat D saat itu. Masuk situs berikutnya walaupun nilaiku lebih baik, tetap tak mampu mendongkrak hingga "si merah" menjadi "hitam". Putus asa rasanya saat itu, belajarpun rasanya tak berhasrat. Bahkan saat mencapai situs terakhir aku sudah sangat pasrah rasanya "ya Allah seandainya nilai akhir anatomiku selamat dapat C saja, asalkan lulus, itu adalah ridho dan kuasaMu ya rabb". Dikala putus asa seperti itu, Allah memberikan setitik cahaya harapan yang membuat hati agak lapang, setelah ujian situs urogenital, situs terakhir. Akhirnya aku merangkak mendapat nilai C. Kemudian masuklah jadwal pre semester, disusul UAS, dan ujian ident besar. Sebisa mungkin ku kerahkan segala kemampuanku untuk setidaknya bertaham di nilai C, berharap tidak turun lagi. Qodarullah, Allah bahkan meridhoi aku mendapat nilai B di mata kuliah yang paling aku anggap mengerikan. Kembali pikiranku melayang pada segelas es jeruk 2 hari yang lalu. Pesan air bening, yang datang malah es jeruk. Kembali cakrawala pemikiran bermain dengan sebuah analogi. Dari segelas es jeruk aku mendapat hikmah bahwasanya Allah akan memberikan yang terbaik dari apa yang kita mohon dan usahakan. Bukan hanya sekedar apa yang kita ingin, tapi apa yang betul-betul kita butuh. Perlu lebih banyak pengorbanan memang, korban waktu, fisik, pikiran, mental, tapi itu semua memang harga yang harus dibayar mahal untuk hasil yang baik. Karena begitulah seninya kehidupan, yang membuat hidup never flat. Karena tak ada nikmatnya merebahkan diri jika tak ada lelah, tak ada nikmat senyum lega jika tak ada raut cemas, tak ada nikmat berada di puncak jika tak ada usaha untuk mendaki. Rencana Allah itu selalu indah jika kita mengindahkannya. Nasehat dari Imam Syafi'i "Bersabarlah, dengan sabar yang hanya sebentar saja", karena hidup hanya sebentar, bersabarlah dan ambil hikmah dari sabar itu. :)
Maha Besar Allah.

Rabu, 25 Desember 2013

Surgapun Kalah Tinggi

    
   Tatkala pagi menjelang, seolah mata ditelanjangi dari gelapnya, seolah nyawa tak lagi dilucuti oleh hening malam, seolah raga kembali mampu merasa, suara lembut itu selalu mampu tuk sadarkanku dari lelap tidur sejak malam tadi. Lantunan Al Qur'an terdengar nyaring memecah keheningan subuh. Terasa damai, tentram, dan hati bergetar tersadarkan untuk bergegas memenuhi panggilan-Nya di subuh itu. 
Betapa rindunya aku akan lantunan Al Qur'an yang bangunkanku setiap subuh, merindukan tangan yang selalu aku cium usai sembahyang, merindukan belaian tangan hangat yang mampu usir dinginnya pilu.
Kasih ibu memang tiada tandingannya. Sembilan bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk menggendongku dalam perutnya, sembilan bulan bukanlah waktu yang sebentar untuknya merawatku dan berbagi nutrisi denganku, sembilan bulan bukanlah waktu yang sebentar untuknya  terbebani olehku, namun ketulusan dari hati yang luar biasa Allah ciptakan mampu mengelakkan segala kepenatan seorang ibu saat mengandung. Cinta kasih yang amat dahsyat yang Allah anugerahkan mampu mengalahkan beban yang dirasakan oleh seorang ibu yang mengandung.
Betapa kasihnya tak mengharap balas jasa, kasih yang tak ternilai harganya, kasih yang takkan mampu aku membayarnya, kasih yang tak lengkang oleh waktu. Nyawapun akan dipertaruhkannya, jiwa dan raga selalu tercurah tak kenal lelah, kasih sayangnya mampu mengalahkan rasa sakit yang luar biasa ketika dia mau perkenalkanku pada dunia.
Betapa berdosanya diri ini tatkala kata menyakitinya, tatkala laku membuatnya menangis, tatkala diri membuatnya kecewa. Tak sedikitpun aku ingin air matanya menetes sia-sia, tak sedikitpun aku menggoreskan luka di hatinya walaupun hanya setitik.
Tanpanya aku tak ada, tanpanya aku bukan apa-apa, tanpanya takkan ada nyawa bersemayam dalam diri ini. Betapa Allah menciptakan makhluk yang begitu istimewa, ketulusannya adalah berkah untukku, kasih sayangnya adalah nyawa bagiku, dan kehadirannya adalah anugerah bagiku. Maha suci Allah yang meletakkan surga di telapak kaki ibu. Betapa kemuliaan seorang ibu mampu menandingi tingginya surga yang bahkan tak sampai semata kaki ibu, hanya pada telapak kakinya. Sungguh hati ini mencintainya karena Allah yang telah menciptakannya. 

"Apa yang ada di dunia ini yang tak ternilai harganya? | Kasih ibu, bahkan surgapun kalah tinggi, tak sampai se-mata kaki. :)."
-Fauzianrifqi-